Refleksi Diri, Prabowo Subianto Mengaku Setiap Hari Diejek Guru Sebagai Bangsa Monyet

Uncategorized62 Dilihat

WARTAKOTALIVE.COM, GAMBIR – Calon Presiden 2024 Prabowo Subianto sempat merefleksi diri dengan berbicara dihadapan cermin saat hadir di acara adu gagasan di Mata Najwa, Selasa (19/9/2023) malam.

Berbeda dengan Capres Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo, Prabowo tidak mau berbicara dihadapan cermin.

Padahal Najwa Shihab sudah berulang kali meminta agar menghadap ke cermin besar yang telah disiapkan.

“Sebentar, saya sudah berkaca, saya ingat, saya mau cerita,” kata Prabowo di UGM, Selasa (19/9/2023) malam.

Prabowo menceritakan, dirinya lahir tahun 1951 di mana kedaulatan Indonesia baru diserahkan dua tahun saat itu.

Baca juga: Prabowo Subianto Jujur di Depan Mahasiswa UGM, Bisnis Terjegal Selama 20 Tahun Tanpa Ada PHK

Kemudian saat usia 24 tahun ia sudah menjadi salah satu komandan TNI dan membawa anak buahnya untuk berenang di Manggarai.

Ia melihat di kolam renang itu ada dinding terbuat dari marmer ditutupi oleh lumut.

“Di dinding itu ada tulisan anjing dan pribumi dilarang masuk kolam renang, itu tahun 1975 saya baca,” tegas Prabowo.

Mantan prajurit TNI menjelaskan, pada zaman dahulu rakyat Indonesia dijajah, dibantai, diperbudak, dimiskinkan dan dianggap lebih rendah dari anjing.

Ia pun membeberkan pengalamannya ketika diminta refleksi oleh Najwa Shihab di hadapan ribuan mahasiswa dan dosen UGM.

Prabowo mengaku pernah hidup di tengah-tengah orang Eropa dan ia mengingat saat itu bukan keturunan kulit putih.

“Setiap hari saya diejek sama guru saya, setiap hari saya dibilang bangsa monyet ini itu, saya sekolah di beberapa negara selalu dibilang seperti itu, rakyat pun tinggal di pohon, saya mengalami,” terangnya.

Baca juga: Prabowo Subianto Akui Banyak Oknum Partai Mainkan Politik Uang: Kita Harus Didik Rakyat

Baca Juga  Sekertaris Umum PP Muhammadiyah Artikan Nama Ganjar: di Kamus Artinya Hadiah, Berkah, Pahala

Oleh karena itu, ia mengungkapkan isi hati ketika diminta refleksi diri yaitu ingin melihat Indonesia sebagai negara bermartabat, terhormat, tidak ada kemiskinan dan rakyatnya gembira sebelum ia meninggal.

Pria berkemeja putih ini tidak mau bangsa Indonesia dihina secara terus menerus oleh negara lain.

“Saya ingin bangsa saya terhormat berdiri di atas kaki sendiri, saya ingin melihat adik-adik saya semuanya pakai buatan Indonesia, itu yang saya cita-citakan,” jelasnya. (m26)



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *