Kritik Pemerintahan Jokowi, Guru Besar UGM Prof Koentjoro Mengaku Diteror, Kantornya Didatangi

Uncategorized14 Dilihat

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA-– Guru Besar Psikologi Universitas Gadjah mada (UGM), Yogyakarta, Prof Koentjoro Soeparno mengaku mendapatkan sejumlah teror setelah dirinya memberikan sejumlah kritik terhadap kebijakan pemerintah tentang pemilu

Dilaporkan Kompas.tv, dia mengaku, mendapatkan teror melalui cara yang berbeda.

Hal itu disampaikan oleh Prof Koentjoro Soeparno dalam dialog Sapa Indonesia Malam, Kompas TV, Selasa (19/3/2024), dengan tema ‘Kritik Pemerintahan Jokowi, Guru Besar UGM Diteror’.

Ia mengatakan, dirinya mendapatkan teror sebanyak tiga kali, yakni melalui media sosial Instagram, aplikasi pesan WhatsApp, dan didatangi ke kantornya.

Baca juga: Risma Mengaku Tak Dilibatkan saat Jokowi Gencarkan Bansos Jelang Pilpres: Uangnya Bukan Lewat Kami

“Saya mendapatkan pesan caci maki itu dua kali. Saya senang malahan mendapatkan pesan caci maki itu karena saya bisa tahu karakternya, siapa dia, malah saya gunakan sebagai obyek belajar saya,” tuturnya.

“Saya menemukan dua bentuk media yang seperti itu. Yang satu itu saya mengistilahkan sebagai lone wolf, yaitu mereka pendukung setia yang berjuang sendirian.”

Dugaan teror tersebut menurutnya terjadi setelah pencoblosan Pemilu 2024, setelah ia bersama sejumlah rekannya membacakan petisi dalam kegiatan UGM menggugat.

“Bahasanya tidak terlalu kasar, saya masih bisa menerima. Tapi dia menuduh bahwa saya adalah pendukungnya 03, saya mau cari jabatan, dikatakan sudah tua, tidak tahu diri, seperti itu.”

“Ini masih relatif sopan, yang sendiri, ini tadi melalui Whatsapp, sehingga nomornya masih bisa dengan mudah dilacak,” tambah Koentjoro.

Teror lain dilakukan melalui aplikasi Instagram dan dilakukan bukan hanya oleh satu atau dua orang, Koentjoro menduga mereka merupakan kelompok pendengung atau buzzer.

“Mereka tersistem, tidak hanya satu atau dua orang, ketika saya ngomong begini, langsung beberapa orang nimbrung saya. Dan itu saya katakan sebagai kelompok-kelompok buzzer.”

Baca Juga  Kepala BP2MI Sebut Hak Pilih Milik 2,5 Juta PMI di Malaysia Terancam Hilang: Sejak Awal Bermasalah

“Yang ketiga adalah mereka datang ke kampus, tadi semakin yakin setelah ada penjelasan dari SKK, Satpam di kampus menjelaskan bahwa mereka hari kedua ada yang berpura-pura ODGJ,” tuturnya.

Ia menambahkan, pelaku yang menerornya melalui Instagram menjelek-jelekkan dirinya melalui dua forum.

Bahkan salah satu mengirim Reels tentang cucunya.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *