Kecelakaan GT Halim Utama, Sopir Truk Masih Remaja, Polisi Gandeng Psikolog dan KPAI

Uncategorized9 Dilihat

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Latif Usman mengatakan, sopir truk ugal-ugalan berinisial MI (17) yang sebabkan kecelakaan beruntun di Gerbang Tol Halim Utama, Jakarta Timur, temperamental.

“Iya, kalau dilihat dari pemeriksaan, temperamental anak ini,” ujar Latif, kepada wartawan pada Jumat (29/3/2024).

Baca juga: Polisi Bakal Periksa Bos dan Orangtua Sopir Truk Ugal-ugalan yang Sebabkan Kecelakaan di Tol Halim

MI, tutur dia, bahkan sempat menolak didampingi kakaknya dalam pemeriksaan.

Atas kondisi itu, pihaknya bakal melibatkan psikolog untuk membantu pemeriksaan terhadap MI.

“Mungkin nanti dari KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) juga akan kami minta (bantuan) untuk bagaimana penanganan kasus ini biar segera terselesaikan,” ucapnya.

Adapun MI telah menjalani tes urine dan alkohol dengan hasil negatif.

Artinya, ia yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kecelakaan itu berkendara dalam keadaan sadar.

Baca juga: Bicara Ngelantur, Polisi Kesulitan Periksa Sopir Truk atas Kecelakaan Beruntun di GT Halim Utama

“Alkohol juga kemarin negatif. Iya (berkendara secara kencang dalam keadaan sadar),” kata Latif.

MI pun terancam hukuman empat tahun penjara atas kasus kecelakaan beruntun itu.

Setelah jadi tersangka, MI dijerat Pasal 311 ayat 1 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang LLAJ (Lalu Lintas dan Angkutan Jalan).

“Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, dia (MI) sudah patut diduga sebagai tersangka. Kami kenakan pasal 311 ayat 3 karena ini korbannya luka ringan,” kata Kombes Latif Usman.

Latif menuturkan bahwa MI hingga saat ini tidak dilakukan penahanan, karena yang bersangkutan masih di bawah umur (remaja).

Kecelakaan beruntun melibatkan 7 kendaraan di Gerbang Tol Halim Utama, Jakarta Timur, Rabu (27/3/2024). (layar tangkap cctv Jasa Marga)

Pihak kepolisian sedang berkoordinasi dengan Balai Pemasyarakatan atau Bapas guna memberi perlindungan terhadap tersangka.

“Dengan situasi saat ini yang menjadi perhatian publik, sehingga kami menanganinya dengan aturan ketentuan yang ada, kami menggunakan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Karena ini sudah (jadi tersangka), berarti anak ini berhadapan dengan hukum,” tutur Latif.

Baca Juga  MK Disiplin Kedokteran Dimintai Keterangan Kasus Malapraktik yang Tewaskan Nanie Dirham



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *